ULAS #4 : DEATHGANG – ..An End To Ill Omens (Part 1)

4 September 2020 akhirnya tiba juga. 11 bulan setelah rilis pertamanya berjudul ”Dope Tales from Salem”. Deathgang, grup Notorious Quattro Stoner/Doom asal kota Yogyakarta menelurkan album debut pertamanya bertajuk “..An End To Ill Omens”. Dirilis via The Swamp Reords, sebuah label rekaman asal United States, America. Album ini berisikan 4 buah lagu, diantaranya Canathoid, Dope tales From Salem, Dionyfuzz, dan Fuzzana (badtrip dalam kubur).

Jika dilihat dari genre yang mereka usung, Doom sendiri bukan genre yang umum di Indonesia, namun saya rasa bukan sebuah kesalahan memang untuk menjadi yang berbeda di negara ini bahkan terkadang malah menjadi sebuah keuntungan. Sama halnya dengan Deathgang. Walaupun mereka mengusung genre yang tidak umum, namun ini merupakan sesuatu yang segar bagi industri. Setelah sekian lama kita dibombardir dengan genre yang itu-itu saja, Deathgang datang dengan riff gitar downtuned mengerikan yang membawa kita terhisap semakin dalam ke dalam kubangan lumpur bersama mereka.

Musik Deathgang tidak banyak mengingatkan saya akan musisi dari dalam maupun luar negeri. Pada ..An End To Ill Omens mereka menempatkan Canathoid sebagai trek pembuka pada album ini. Sebuah trek yang mereka sesumbarkan bahwasanya “Canathoid lebih slow dari lagu pop manapun, mendayu sampai kebas”. Dan memang benar adanya, Riff Bass yang mendayu mengawali lagu ini. Sejak awal mereka memang sudah terlihat gagah dan seram. Namun saat bunyi bass mengalun, Saya langsung teringat dengan Nagas 1 milik Super Group, Shrinebuilder. Kemudian saat vocal mulai menyusul masuk, saya cukup terperangah dengan karakternya yang sangat memenuhi ekspektasi saya pribadi. Bisa diibaratkan seperti pemabuk yang mulai marah. Belum lagi efek gitar yang fuzzy menambah kesan atmospheric pada album ini. Lagu yang berdurasi lebih dari 14 menit tersebut adalah lagu yang nantinya akan menghantarmu ke  dalam sebuah rawa-rawa penuh lumpur yang mencengkeram dan takkan membiarkan kakimu dengan mudah melangkah.

Kemudian dibawalah kita melangkah pada trek kedua, sebuah lagu yang dapat dikatakan sebagai soundtrack kehancuran terbaik 2020. Lagu yang akan membuat kepalamu mengangguk sepanjang musik dimainkan. Dalam album ini unsur blues memang sangatlah terasa, begitupula pada nomor Dope Tales From Salem. Mereka meracik blues terdengar lebih gelap dari sebelumnya. Suara vocal yang menyalak, Riff Gitar yang berat, Bass yang melodius, dan bunyi drum yang tidak berlebihan namun tetap heavy adalah perpaduan yang sungguh pas. Lagu ini juga merupakan sebuah single yang sebenarnya sudah mereka rilis pada November 2019. Mungkin saat hidupmu sedang putus asa, dipenuhi amarah yang terpendam, lagu ini dapat menolongmu menambah berat beban pikiran. Terkadang, sakit hati memang harus dirayakan.

Setelahnya kita disuguhkan Dionyfuzz, tidak lagi pelan, mereka langsung meng-geber sejak awal. Sebuah lagu yang terdengar heavy namun tetap menyenangkan, siapkan dulu bong-mu namun pastikan tidak berada dekat dengan kantor BNN karena lagu ini akan menemanimu sepanjang terbang menyusuri langit psikedelia atau berjalan di padang pasir di bawah substansi yang menggerus kerja syarafmu.

Akhir yang panjang, begitulah cara saya merepresentasikan Fuzzana. Satu yang terakhir dari album ..An End To Ill Omens, dengan durasi lagu lebih dari 14 menit dan menjadi satu-satunya lagu berbahasa Indonesia milik Deathgang. Menilik dari judul lagu tersebut, sudah barang tentu kita akan mengacu kepada Sang Ratu Horror tanah air, siapa lagi kalau bukan Suzana yang dikemas dengan nuansa horror psikedelia. Dengarkan saja nukilan lirik berikut, “Fuzzana! Bad trip dalam kubur!” Yang dilantunkan berulangkali. Bayangkan, bagaimana rasanya menjadi Fuzzana yang mengalami Bad Trip dalam kubur. Mengerikan bukan?

Lirik dalam lagu ini ditulis dengan gaya penulisan yang naratif. Selain itu, secara tidak langsung mereka juga menegaskan Deathgang sebagai grup Stoner Pelebur Batu Setan atas musik mereka yang berat dan gelap. Bagi saya, lagu ini merupakan lagu penutup yang epik dan dramatis. Saya juga yakin trek ini akan menjadi salah satu lagu favorit dan sing a long disetiap gigs mereka kelak.

..An End To Ill Omens sendiri dikemas dengan sangat menarik, cover album digarap dengan apik oleh seorang illustrator dengan nama akun Instagram Gigatheis. Mereka meluncurkan album ini dengan 2 format rilisan fisik yaitu kaset pita dan CD, serta tidak ketinggalan album ini juga tersedia di layanan musik streaming Bandcamp. Sebelumnya saya mendapat kabar dari sang vokalis bahwa album ini baru bisa dinikmati secara fisik di Indonesia pada bulan Oktober mendatang.

..An End To Ill Omens dari Deathgang, kuartet stoner/doom potensial asal Yogyakarta ini sangat layak dengar bagi kalian penggemar musik khususnya rock serta turunannya. Setelah ada Suri dan Matiasu dengan doom-nya masing-masing, kali ini kita berada pada era Deathgang. Di telinga saya album ini terbilang tanpa cela, lagu demi lagu di dalamnya memberi saya kepuasan tersendiri. Dengan riff yang berat, vocal yang berkarakter serta dentuman drum fuzz yang menghentak, Selamat datang pada music Deathgang! The Beast is back, They drop the holy crown, take the immortal wine and BEWARE BOYS!

Source Pic : Deathgang’s Instagram ( @nastydeathgang)

https://deathgang.bandcamp.com/album/an-end-to-ill-omens

ULAS #3 : NEUROSIS : Palung Terdalam Amarah dan Ketakutan

Kehidupan memukul saya jatuh berkali-kali, namun terkadang saya merasa sangat beruntung karna dapat berhasil bangkit berkali-kali.

Semua yang akan saya tulis disini merupakan sebuah pengalaman, tidak penting pelajaran apa yang harus kalian ambil, entah baik atau buruk hanya satu yang saya ingat, music telah menjadi penyelamat.

Saya yakin setiap kalian pernah mengalami hari yang buruk dalam hidup, mungkin sekali, dua kali, atau bahkan hingga kini tiada henti.

Kebetulan sekali tahun 2020 merupakan tahun yang buruk, begitupun untuk Saya. Setelah dihantam pandemi, kini Indonesia terancam resesi. Sudah pula sakit, masih harus miskin. Tidak berhenti disitu, terpaksa dunia hiburan juga mengalami hiatus, yang menjadi sorotan saya adalah sektor musik. Mungkin untuk beberapa band dengan nama besar, masih banyak kemungkinan melakukan virtual concert melalui berbagai platform digital streaming, lalu bagaimana dengan band band daerah lainnya? Ketimpangan sosial memang tengah terjadi dimana-mana, lalu apa selanjutnya? Si kaya terus berujar seolah kita berada pada perahu yang sama, namun kenyataannya tidak—mungkin kami ada di perahu, namun mereka tengah tenang di kapal yang jauh lebih besar walaupun memang kita sedang menghadapi ombak yang sama. Ombak yang sama besarnya, lantas siapa yang akan terjungkal lebih dulu? Sudah pasti kita yang berada di perahu.

Sebetulnya permasalahan ini sudah terjadi sejak lama, permasalahan antara si kaya dan si miskin. Hingga saya atau bahkan mungkin kamu sudah tidak lagi peduli. Belum selesai pada status sosial, ternyata masih ada saja orang yang sempat-sempatnya berebut kekuasaan, saling injak, saling bunuh, menghajar, menggusur, serta mengeruk rakus. Saya jadi mempunyai pandangan dan semakin yakin bahwa dunia memang sudah tidak baik-baik saja semenjak manusia menjadi penghuninya.

Kemarahan-kemarahan ini terakumulasi, menjadi kesumat yang sukar diungkapkan. Apalagi saat lingkungan terkecil dan terdahulu juga sudah sibuk dengan saling menyalahkan, rasanya ingin sekali meledakan kepala.

Saat keadaan membuatmu terpaksa tidak sanggup melawan, melampiaskan kemarahan dan ketakutan adalah momen yang ditunggu. Lalu medium apa yang tepat jika menghajar atau memaki seseorang merupakan tindakan diluar norma?

Saya menemukan jawabannya, yaaa..musik. Adalah hari dimana saya berkenalan dengan album Through Silver In Blood milik band Post-Metal, Doom, dan Sludge kawakan asal Oakland, California, NEUROSIS. Band yang sudah lebih dari 30 tahun berdiri ini membawa music penuh kemarahan dan ketakutan didalam albumnya. Beranggotakan Scott Kelly dan Steve Von Till pada gitar dan vocal, Dave Edwardson pada bass/backing vocal, Jason Roeder pada drums, dan Noah Landis pada synthesizer. Sejauh ini Neurosis sendiri sudah menelurkan 11 album studio dan 3 album live.

Sedikit bercerita, saat saya jauh lebih muda dari umur saya sekarang, saya cenderung haus akan music cepat dan keras, dalam artian music keras dan cepat adalah sebenar-benarnya metal. Namun makin kesini, saya menemukan kemarahan, keetakutan, dan semangatnya lewat metal yang cenderung lambat seperti Doom dan Sludge, semakin lambat dan semakin tebal soundnya, bagi saya semakin metal dan bengis lagu tersebut. Persis apa yang saya dpat dari Album Through Silver In Blood ini, kemarahan saya seakan tersalurkan, segala ambisi serta ketakutan saya dapatkan. Album yang diproduksi pada 1996 dan diproduseri oleh Billy Anderson, produser yang juga sempat memproduseri album Sleep, OM, hingga Acid King ini masih sangat relevan hingga sekarang. Diantara 11 album studio milik mereka, menurut saya album Through Silver In Blood ini masih terdengar sangat liar dan penuh amarah.

Dibuka dengan lagu berjudul sama dengan albumnya, Through Silver In Blood diawali dengan bunyi perkusi yang lebih mirip genderang perang, tanda kalian akan dihajar habis-habisan untuk lagu-lagu selanjutnya. Lagu berdurasi 12 menit 12 detik ini lebih dari cukup menghantam telingamu, atau bahkan membuatmu semakin terhisap lumpur yang dalam. Vocal Kelly dan Steve yang marah bersahut-sahutan riff, gitar yang atmospheric dengan sentuhan industrial lewat synthesizer Noah seakan menerbangkanmu sekaligus menjatuhkanmu berkali-kali tanpa henti.

Kemudian Rehumanize menyambut setelah selesai dari trek pertama, dengan sampling yang menyeramkan diawal berbunyi “There’s no light without darkness..” adalah jembatan menuju trek ketiga berjudul Eye, tanpa ampun merekamenggeber diawal dengan vocal Steve dan bunyi drum Roeder yang merentet dan growl dari sang bassist yang brutal. Kemarahan yang meledak-ledak sungguh terasadi lagu ini. Setelah Lelah dihajar Eye, lanjut Neurosis memberimu Purify-gitar pelan dan lambat membuka disambut dentuman drum dan cymbal yang membuatmu terperangah. Sungguh metal yang amat megah bagi saya, seperti berjalan dirawa-rawa yg berat dan gelap. Kemudian setelah menyeret kaki selama 12 menit 18detik berama Purify, tibalah saat dimana lagu favorit saya, mungkin juga lagu favorit seluruh fans Neurosis yaitu Locust Star.

Saya berani bertaruh jika memang ada metalhead yang tidak mengangguk-anggukan kepala pada saat lagu ini diputar. Kemarahan saya seperti tersalurkan dengan baik pada Locust Star, lagi-lagi teriakan Steve dan Kelly mengiring sepanjang lagu, Locust Star memukul saya berulang kali, seperti berusaha memechkan kepala saya. Saya pribadi menilai Locust Star adalah lagu metal terbaik sepanjang masa. Riff riif tebal menyeret, dan bass yang kelam, ditambah drum yang mengerikan diiringi bebunyian dari synthesizer yang sama sekali tiak menghilangkan rasa metal itu sendiri.

Kemudian kita seakan diberi istirahat sejenak setelah dianiaya tanpa ampun oleh Locust Star untuk masuk kedalam Strength of Fates. Trek berdurasi lebih dari 9 menit ini mempunyai sampling yang cukup Panjang sebelum masuk ke petikan gitar pertama. Sambil menghela nafas dan mengikuti simfoni suara vocal hingga menit ke 7 dan pada akhirnya kembali untuk dihantam. Memang kejam sekali Neurosis ini.

Saat akan masuk trek ke 8, sebelumnya kita harus melewat jembatan sampling pada nomor berjudul Become The Ocean. Kemudian baru dibawalah kita ke dimensi lain yang bernama Aeon, dibuka dengan bunyi tuts keyboard dan disusul sentuhan biola dan snare yang terdengar seperti penyambutan dan ucapan selamat datang ke gerbang Valhalla.

Lalu album ini diakhiri dengan trek penutup berjudul Enclosure In Flame, lagi-lagi petikan gitar mengiring intro, lalu vocal yang lebih mirip gumam dibanding menyanyi seolah menemani kita pada tarikan nafas terakhir sebelum akhirnya disiksa dan dibunuh. Kemudian terdengar jeritan Kelly diiringi rentetan snare, sungguh trek penutup yang mengerikan. Saya membayangkan seperti seseorang dalam film thriller yang sedang diikat pada tiang menanti algojo datang, namun kemudian saat ia mulai datang dan menyiksa scene ditutup karna adegan yang terlalu kejam.

Ya-memang terkesan akhir yang sangat menggantung, karna saya yakin Neurosis tidak akan pernah berhenti menyiksa setiap orang. Begitulah ulasan saya mengenai album Through Silver In Blood yang berhasil membawa Saya masuk pada palung terdalam kemarahan dan ketakutan. Sungguh album yang berisi trek demi trek yang bengis.

Selamat mendengarkan!

ULAS #2 : Amateur – Mikha Angelo

Kali ini saya akan membahas Album terbaru milik Mikha Angelo yang bertajuk Amateur.

Mungkin banyak masyarakat mengenal Mikha Angelo sebagai salah satu peserta X-Factor, sebuah ajang pencarian bakat yang disiarkan oleh salah satu TV Nasional Indonesia. Walaupun langkahnya terhenti di 4 besar dalam ajang tersebut namun kualitas suara dan karakternya sungguh tidak mungkin kita ragukan lagi. Saya ingat betapa kagum saya saat ia berkesempatan menyanyikan Ordinary World lagu milik band Duran Duran dengan sangat indah. Selain dari aransemen yang mengagumkan,Teknik bernyanyi Mikha sendiri adalah sebuah karakter yng kuat yang menjadi sorotan pribadi saya.

Pada 28 Agustus kemarin ia menelurkaan album solo pertamanya setelah 7 tahun dikenal sebagai salah satu personil dari The Overtunes, band yang dibentuk bersama dua saudaranya. Sejauh ini, sepak terjang Mikha di dunia balik layar juga sudah tidak perlu diragukan kembali, Ia memproduseri serta menulis banyak lagu, beberapa diantaranya untuk Raisa, Eva Celia, hingga Rendy Pandugo, tiga musisi besar pada genrenya masing-masing. Mikha juga merupakan multi instrumentalis asal Jakarta. Album yang berisi 8 buah lagu dengan berbahasa inggris ini bertemakan tentang pengalaman pribadi Mikha mengarungi perjalanan hidupnya. Dalam album ini Mikha mengaku bahwa semuanya ia kerjakan sendiri mulai dari penulisan lirik, aransemen serta instrumennya.

Untuk memulai Amateur, album ini dibuka dengan trek pertama berjudul sama dengan albumnya,  yaitu Amateur. Dari lirik yang dibuat oleh Mikha,saya menangkap ia sangat paham tentang album ini yang merupakan album pertamanya sebagai solois, terdengar dari nukilan lirik lagunya yg sepertinya masih belum yakin, trek pembuka yang sungguh pesimistis bagi saya,

Don’t let me fly too far

Don’t let me fall too hard

Cause after all I’m just another amateur about to know that

Namun selebihnya, trek pertama ini dikemas secara manis, ditambah vocal Mikha yang khas seperti mewujudkan ekspektasi saya tentang akan seperti apa gaya bermusik Mikha.

Trek kedua pada album ini berjudul Run, pertama kali saya mendengar lagu ini ekspektasi saya tentang gaya bermusik Mikha langsung buyar. Video Klip-nya juga sudah dapat kalian saksikan di official youtube chanel milik Mikha. Apabila Saya menjadi Mikha, mungkin lagu ini akan saya jadikan lagu pembuka, karna terdengar jauh lebih optimistis. Dalam lagu ini Ia sepertinya membahas tentang kehidupannya yang pada saat ini menginjak umur 20-an dan ia mulai percaya diri untuk terus melangkah.

My heart is ready for the thing I fear

I learn to love
I learn to feel
Just be human although it’s hard

Lagu ini terdengar powerfull, dengan isian suara pengiring dalam lirik “run from it..” Benar saja jika Iyas Lawrence dalam podcastnya (Makna Talks) mengatakan bahwa album ini sangatlah gospel. Lagu ini juga jauh dari karakter Mikha selama di The Overtunes, membuat saya semakin tertarik untuk menyimak lagu-lagu selanjutnya.

Selanjutnya ada 6 lagu lain yang menunggu kalian dengar, Human dengan sentuhan elektroniknya, kemudian Stay a While yang masih terdengar cheerfull dengan gitar akustik sebagai pembuka lagu, lalu kembali menurunkan tempo di Shot, dan ada Middle Ground yang bercerita tentang Mikha yang sepertinya mencoba menenangkan Ibunya, berlanjut Fairytale dengan irama dance yang kental, dan diakhiri Too and More yang mengemas cinta dengan manis.

Dari 8 trek yang ada, Lagu favorit saya dalam album ini adalah Run. Selain liriknya, ada unsur surprise yang saya dapat karna berhasil menyanggah ekspektasi saya.

Sudah sepatutnya album ini dapat menjadi album yang kesuksesannya sejajar dengan album-album milik Pamungkas, Oslo Ibrahim, Rendy Pandugo, atau bahkan Hindia. Memang—untuk menjadi seorang solois di Indonesia memang sedikit tricky, selain good looking, suara bagus dan berkarakter, lingkaran pertemanan juga merupakan pengaruh besar dalam sukses atau tidaknya sebuah album music. After all.. album ini adalah salah satu album layak dengar untuk kalian, album yang easy listening dengan komposisi music yang pas serta mengangkat tema yang akrab dengan generasi hari ini.

Sukses untuk albumnya dan selamat mendengarkan untuk kalian semua, Album ini juga sudah tersedia dipelbagai layanan streaming. Salam—

ULAS #1 : Adalah Mantra Bagi Kami—GAS!

Ini merupakan tulisan ke-dua saya mengenai FSTVLST, yang pertama saya bercerita tentang bagaimana awal saya berkenalan dengan karya-karya dari mereka, kemudian kali ini saya akan berccerita tentang betapa hebatnya lirik dalam lagu GAS!

Mungkin hampir dua tahun yang lalu FSTVLST melepas single pembuka dari album penuh mereka yang ke-dua dengan tajuk “II”. Entah bagaimana bisa, FSTVLST seolah paham akan keadaan saya, sama seperti saat pertama saya mengenal Hit Kitsch, GAS! Rilis tepat disaat saya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.

Saya hampir berumur 25 tahun saat itu, bagi sebagian orang 25 tahun adalah masa peralihan bagi manusia dari remaja ke dewasa. Tentu banyak dari kita yang mengalami kebingungan, kegundahan, dan mengumpulkan banyak pertanyaan dengan sebagian besarnya adalah berkeluh tentang keadaan. Orang-orang kerap menyebutnya quarter life crisis. Keadaan ini mungkin wajar, di umur 25tahun sebagian dari kita pasti sedang sibuk dengan banyak hal, ada yang masih berkutat dengan pekerjaannya, dengan pendidiknnya, sampai dengan keluarga barunya. Namun GAS! Hadir pada sisi lain dari kesenangan tersebut, bisa dibilang GAS! merupakan anti-tesis dari kehidupan yang baik-baik saja.Saya mungkin salah satu yang kurang beruntung, kaarna dihadapkan dengan pekerjaan yang semakin hari semakin buruk saja hasilnya, lingkaran pertemanan yang makin mengecil, dan boro-boro keluarga baru, diterima saja tidak oleh keluarganya.

Keadaan tersebut sudah pasti membuat saya terpuruk, sudah terpuruk ditambah cicilan dimana-mana. Sayangnya konflik tidak berhenti dari situ saja, ada perang batin dengan pekerjaan yang rasa-rasanya tidak  sesuai degan apa yang diharapkan, entah diharapkan oleh diri sendiri, ataupun diharapkan oleh orang tua. Hubungan percintaapun tidak berjalan dengan semestinya, mungkin beberapa orang beruntung, saat dimana keadaan tidak baik-baik saja, masih ada tempat dimana kamu bisa menyandarkan kepala dan yang..yangan sambil dibelai lembut rambutnya, tapi tidak bagi saya.

Saat keadaan tidak baik-baik saja,  bukannya ditenangkan malah dihantam dengan perselingkuhan. Sudah diselingkuhi, ditinggali cicilan pula. Sejak saat itu rasanya setiap kali melakukan kegiatan, dunia seperti sedang mengejek saya. Tinggal di kota sebesar Jakarta sendirian, dihantam perekonomian, sekaligus ditinggalkan cinta. Mengerikan bukan?

Beberapa kali sempat terlintas dalam benak,

“Mungkin akan lebih baik kalau saya mengakhiri hidup saja..” namun buru-buru saya tepis, karna hati saya pun menimpali, “Mengapa harus mengakhiri hidup saya, kenapa tidak mengakhiri hidupnya saja?” tapi lagi-lagi tertepis, karena–masa iya sudah miskin, kriminil pula.

Tepat 9 September 2018, FSTVLST merilis single sekaligus klip GAS! Di youtube. Penantian yang dirasa cukup lama, sekitar 4tahun usai Hits Kitsch.

Bergegaslah saya membuka gawai, menuju single terbaru mereka, entah mengapa saya sangat bersemangat dan yakin kalau mereka pasti akan membuat karya yang bagus. Benar saja, saat pertama mendengarkan saya sudah senyum-senyum sendiri, karna seperti halnya karya sebelum ini, lirik adalah senjata terkuat mereka.

Relate? Sudah pasti.

Diawali dengan bunyi snare dan bass drum yang dipukul bersamaan, bagi saya ini merupakan efek kejut serta penanda kekuatan serta ketegasan tentang apa yang akan mereka tampilkan setelahnya, disusul bunyi bass dan gitar khas dari FSTVLST. Menyenangkan.. Suara Farid terdengar mengalun menyambut instrumen lain bagai bapak menasihati putranya yang baru pulang dengan piercing baru di telinganya.

Berikut merupakan nukilan lirik pada bait pertama lagu GAS!

Mengingat bagaimana ini bermula,

Disaat sudah sejauh ini jalannya

Sudah berangkat semenjak pagi merah, tertelan bulat di cakrawala senja

Bergegas terburu dan tergesa, menjadi hafalan diluar kepala

Rapal lirih larik-larik doa, hirup dan hembuskan cita-cita

Sebenarnya dalam paham, bukanlah ini rencananya

Sementara dalam rasa, tak ada yang salah dan semua baik-baik saja

Berdasarkan nukilan tersebut, saya merasakan tentang sesuatu yang dijalani sebenarnya bukan karna keinginan namun berat akan kebutuhan alias kebanjur (telanjur). Sama seperti apa yang sedang saya jalani kala itu. Menjalani pekerjaan juga percintaan yang dilandaskan azas keabanjur, nanging butuh.

Anehnya..Baru bait pertama saja rasanya saya sudah seperti ditepuk-tepuk punggungnya. Saya mulai menarik nafas yang cukup dalam untuk kemudian tetap melanjutkan. Masuklah kita pada reff pertama, dan seperti inilah bunyinya..

Berjalan tak seperti rencana

Adalah jalan yang sudah biasa

Dan jalan satu-satunya

Jalani sebaik kau bisa

Saya berani bersumpah saat lirik ini selesai dinyanyikan tertunduk haru saya dibuatnya. Mungkin bagi sebagian orang saya terlihat berlebihan saat menginterpretasikan lagu ini, namun bagi saya, ini merupakan sebenar-benarnya yang saya rasakan. Flashback ke panggung The Parade sampai akhirnya 2018 berkesempatan untuk menyaksikan mereka di Synchronize Festival Jakarta. Perasaan kagum saya masih sama seperti bertahun-tahun yang lalu, apalagi saat GAS! dimainkan. Jika beberapa orang percaya music sebagai media penyembuhan, begitu pula saya. Salah satunya adalah music mereka, sejak Hits Kitsch hingga GAS! diluncurkan saya merasa mereka selalu jadi obat yang saya cari dalam pesakitan.

Seperti apa yang diceritakan lagu ini, Setiap orang pasti pernah ada di fase kebingungan dalam hidup, merasa jalan yang dilaluinya tidak sesuai dengan  apa yang diharapkan dan di impikan, dan saat itu terjadi saya selalu menyempatkan “pulang”pada lagu ini. Lagu yang di Aamiin-kan banyak orang menguatkan mereka, juga menguatkan saya. Untuk kali ini saja sepertinya FSTVLST tidak perlu berterimakasih untuk kami yang telah mengambil keputusan untuk mendukung mereka, sudah lebih besar dukungan kalian terhadap kami yang disalahkan, ketakutan, hingga tersepelekan.

Saya Hangga, dengan NIF 002188 berjanji suatu saat nanti pasti akan mengejutkan.

Untuk ke sekian kalinya, Terimakasih banyak FSTVLST, kami sadar walau bagaimanapun juga, merawat cita-cita tak akan semudah berkata-kata, namun rencana berikutnya rajut lagi cerita, merapal doa, GAS! sekencangnya.  

FSTVLST Adalah Pengalaman.

2012 adalah tahun dimana saya harus kuliah. Jogja adalah kota yg saya tuju saat itu untuk melanjutkan pendidikan. Selain memang Jogja kerap disebut sebagai kota pelajar, kota yg mengagumkan, kota yg bisa ngebuat kalian semua selalu pengen balik lagi, Jogja sendiri bagi saya adalah kota yg peradaban musiknya lebih maju dibanding kota saya tinggal saat itu, yaitu Purwokerto. Dan hal tersebut adalah alasan terbesar saya kenapa mau untuk melanjutkan studi disana. Memang tidak lama, sekitar setahun sebelum akhirnya saya pindah ke Jakarta karna kerjaan. Tapi sudah cukup banyak gigs yg pernah saya datangi, dua diantaranya yg paling berkesan adalah HMTG Tour dari MORFEM di Gejayan, dan LocStock Fest hari pertama di daerah Maguwo.

Yang saya bingung saat di Jogja adalah setiap kali saya makan di burjo, atau di angkringan sekalipun, sampai setiap saya berkendara di jalanan, tembok tembok di setiap jalannya seringkali dipenuhi dengan flyer gigs yg bertuliskan FSTVLST. Awalnya saya pikir, FSTVLST ini adalah nama sebuah acara atau sponsorship.

Dan sama sekali saya nggak tertarik untuk cari tau siapa dan apa sebenarnya FSTVLST ini. Mau tanya juga saya bingung harus tanya siapa, karna di kampus kebanyakan orang-orang dari luar jawa.

Sempat suatu waktu saya berkelakar dengan seorang teman saat sedang bertemu di jalanan depan rektorat UNY, tepat dibawah baliho besar bertulis FSTVLST dengan gambar 4 personilnya, dengan salah satu personil menggunakan celana bergambar tengkorak yg selanjutnya orang tersebut kita semua kenal dengan nama Farid Stevy. Namun entah untuk acara apa baliho itu dibuat kamipun tidak memperhatikan,
S : “FSTVLST ini apaan si?”
T : “Band kayanya deh..”
S : “Nggak jelas, Alay banget namanya disingkat-singkat.. Emang bagus ya?”

Beberapa hari, minggu, atau bulan setelahnya, Saya inget di Jogja ada satu acara rutin, yaitu The Parade. Mirip mirip Kick Fest! Atau mungkin inisiatornya sama, saya juga nggak tau. Berikut adalah flyernya

Ada THE SIGIT, SERINGAI, DEADSQUAD, dan WSATCC, tidak ketinggalan juga local heroes seperti ENDANK SOEKAMTI, CAPTAIN JACK, SHAGGYDOG, DEATH VOMITH dan sudah pasti FSTVLST.
Hari itu saya dateng untuk 3 line up teratas yaitu, The Sigit karna saya dulu kebetulam adalah seorang Armies (sebutan untuk fans The Sigit), kemudian Seringai, dan Deadsquad formasi Horror Vision. Makin penasaranlah saya dengan FSTVLST ini. Entah mereka tampil hari itu atau tidak, sepertinya saya belum beruntung untuk menyaksikan dan membuktikan rasa penasaran saya. Setelahnya saya sudah tidak peduli lagi dengan siapa FSTVLST. Pertengahan 2013 saya harus pergi ke Jakarta, untungnya saya sempat nonton LocStock, acara yg cukup punya sejarah dan cerita yg juga ramai pada saat sebelum dan sesudah penyelenggaraanya. Saya sempat menonton Captain Jack, Seek Six Sick dan juga Navicula.

Selama di Jakarta, saya iseng follow twitter FSTVLST, di timeline twitter, mereka sering menyebut nama JENNY, tapi awalnya saya nggak peduli, Sampai akhirnya saya tau kalau JENNY adalah sebuah band awal mula sebelum nantinya FSTVLST terbentuk. Kemudian saya juga iseng buat download lagu mereka yg pastinya ilegal saat itu hehehe~ yg berjudul Orang-Orang Di Kerumunan. Setelah saya dengar berulang kali, di awali dengan bunyi sirine yg mengaung kemudian disusul drum yg langsung tancap gas diawal serta dibarengi vokal yg menggugah, dalam hati “Wah, enak juga nih lagu mereka. Liriknya keren gila.. Oooh jadi Fstvlst band rock.”
Tapi sayangnya saya mentok di lagu tersebut. Saya nggak nyari referensi lagu lainnya lagi dari FSTVLST. Baru sekitar tahun 2014-an awal, saat saya mulai menggunakan SoundCloud dimulailah pencarian FSTVLST. Ayun Buai Zaman adalah lagu berikutnya yg saya dengar, lagu ini bernuansa pop, lagu diawali dengan bunyi gitar akustik yg renyah dan enak, lagi-lagi kekuatan yg paling kuat dari lagu ini adalah liriknya. “namun apapun yang pernah tergenggam pasti akan memudar lalu hilang..”
Berlanjut saya mendengarkan lagu dengan judul, Menantang Rasi Bintang versi akustik. Ajaib!!! Respon saat saya dengar dengan saksama lagu ini untuk pertama kalinya, ini adalah lagu pertama mereka yg berhasil bikin saya merinding, saya perhatikan bait demi bait liriknya mengandung arti perdamaian, dalam hal ini merujuk kepada berdamai dengan diri sendiri. Saya yg sedang terombang ambing saat itu merasa benar-benar ditenangkan, bahkan oleh sebuah lagu. “Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah, segera mulailah syukurmu yang pasti indah, berbahagialah
Saya yakin bagi beberapa orang penikmat musik, pasti mereka mempunyai satu atau beberapa lagu dengan pengalaman “spiritual” seperti apa yg saya alami. Rasanya seperti di puk puk Sarah Azhari cuy, adem benerrrrr.

Kemudian saya lupa tepatnya, saya berkesempatan untuk menyaksikan FSTVLST di JEC, Padahal niat awal saya balik ke Jogja adalah untuk menonton penampilan Seringai yg sedang saya gandrungi saat itu. Sebelum Seringai tampil, ternyata FSTVLST naik panggung. Oiya FYI, fans band band jogja tidak kalah dibanding band band luar kota, sebut saja Kamtis Family, Monster Jackers, Doggies, Sobat Vomit, termasuk para penikmat Fstvlst yg juga berjumlah banyak pada saat itu, selain itu mereka juga loyal. Mereka merangsek kedepan, memenuhi venue sesaat setelah FSTVLST dipanggil oleh MC sebagai penampil. Farid keluar sedikit berlari, dengan diiringi musik dan entah apa lagu awal yg dibawakan mereka saat itu, semua bernyanyi bersama, hingga suara Farid hanya terdengar samar. Pertama kali saya liat Farid secara langsung, dia Gondrong, Kurus, dengan cardigan panjang dan fedora hat, terlihat sekilas mirip Rekti The Sigit era Hertz Dyslexia. Ditengah set seperti biasa, bercanda dan menyapa penonton dan bermain main dengan bayanganya sendiri yg terpantul di dinding JEC malam itu. Satu lagu lagi yg pernah sekilas saya tonton di Youtube mereka bawakan, Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan yg berbeda dengan versi audionya. Crowd semakin menggila, saya kagum dengan apa yg saya saksikan dan rasakan malam itu. Nomor setelahnya, mereka membawakan lagu favorit saya, Menantang Rasi Bintang. Dengan menenteng gitar akustiknya, Farid memimpin seisi JEC untuk bernyanyi bersama. Ada pengalaman menarik pada pertunjukan malam ini, dikarenakan gue yg belum pernah sekalipun nonton Fstvlst, saya terkaget saat lagu Hari Terakhir Peradaban dibawakan. Ditengah lagu, Farid mengomandoi kerumunan ini untuk meludah, yg ternyata ini memang “tradisi” disetiap kali lagu ini di mainkan. Banyak yg meludah, banyak pula yg menghindar, sayangnya saya nggak sempat. Tapi overall pertama kalinya menyaksikan FSTVLST malam itu adalah pengalaman yg mengagumkan bagi saya yg hanya hafal satu lagu.

Kabar baik tidak lama setelah pengalaman itu. FSTVLST akhirnya merilis satu album penuh bertajuk HITS KITSCH pada bulan September 2014. Berisi 10 lagu antara lain;

  1. Orang-Orang Di Kerumunan
  2. Menantang Rasi Bintang
  3. Hujan Mata Pisau
  4. Akulah Ibumu
  5. Hal-hal Ini Terjadi
  6. Tanah Indah
  7. Bulan Setan Atau Malaikat
  8. Satu Terbela Selalu
  9. Hari Terakhir Peradaban
  10. Ayun Buai Zaman

Saya berhasil membeli album fisiknya dan menyetelnya dengan menumpang mobil teman, karna saya tidak punya player dengan sound yg proper untuk memutar CD saat itu. Sepanjang perjalanan mungkin saya adalah orang yg paling bahagia. Peduli setan dengan teman yg terus mempertanyakan siapa dan apa yg saya dengarkan. Memperhatikan lagu demi lagunya dengan saksama sambil menghafal sedikit demi sedikit liriknya. Hits Kitsch ini kalau di ibaratkan tuh kaya.. satu makanan yg kalian bener bener lama pengen makan, kemudian kalian akhirnya bisa ngebeli dan nikmatin itu dengan puas. Indaaaaah sekali.
Semua track di dalam album ini sungguhlah terbaik. Favorit saya diantaranya Hujan Mata Pisau & Satu Terbela Selalu.

https://open.spotify.com/album/7eZCOAcFxnUg1KRkszfUkM?si=ErfHI56ORR25uepBSJLfyA

Namun bukan tanpa celah, beberapa lagu didalam Hits Kitsch mengalami perubahan tidak seperti versi live yg selama ini gue dengar. Seperti lagu Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan menjadi lebih smooth bila dibandingkan versi livenya yg raw seperti apa yg saya bicarakan di awal. Namun kembali lagi, ini salah satu album dari beberapa album terbaik yg pernah saya dengarkan semasa hidup setelah MORFEM Hey Makan Tuh Gitar! dan Dramaturgi Underground, GHOST B.C. Infestissumam, serta OFF! Wasted Years.

Terhitung sudah 2x selama 2018 saya menonton penampilan live FSTVLST, pertama di kota kelahiran saya sendiri yaitu Purwokerto dan yg kedua di Synchronize Fest 2018 Jakarta. Keduanya sangat berkesan di Purwokerto adalah untuk pertama kalinya single baru dengan judul GAS! dibawakan , namun terlebih saat di Synchronize Fest. Karna itu adalah kali pertama saya memperkenalkan FSTVLST kepada pacar. Dia pun bilang, “Bagusss Hang… Rame juga yg nonton.. Seru banget” sembari dengerin dan nemenin saya yg sepanjang set ikut sing along.

Tepat minggu depan, tanggal 16 Februari 2019, FSTVLST akan mampir di Purwokerto bersama The Sigit dan yg lainnya, Saya berharap saya bisa menyaksikan mereka lagi untuk kesekian kalinya. Dan lewat tulisan ini, Saya ingin menyampaikan bahwa impact dari musik yg kalian buat sangatlah besar bagi kehidupan saya saat ini. Terimakasih banyak FSTVLST, kalian adalah sebuah pengalaman.

Sumber : https://instagram.com/fstvlst & Google Picture

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai