4 September 2020 akhirnya tiba juga. 11 bulan setelah rilis pertamanya berjudul ”Dope Tales from Salem”. Deathgang, grup Notorious Quattro Stoner/Doom asal kota Yogyakarta menelurkan album debut pertamanya bertajuk “..An End To Ill Omens”. Dirilis via The Swamp Reords, sebuah label rekaman asal United States, America. Album ini berisikan 4 buah lagu, diantaranya Canathoid, Dope tales From Salem, Dionyfuzz, dan Fuzzana (badtrip dalam kubur).
Jika dilihat dari genre yang mereka usung, Doom sendiri bukan genre yang umum di Indonesia, namun saya rasa bukan sebuah kesalahan memang untuk menjadi yang berbeda di negara ini bahkan terkadang malah menjadi sebuah keuntungan. Sama halnya dengan Deathgang. Walaupun mereka mengusung genre yang tidak umum, namun ini merupakan sesuatu yang segar bagi industri. Setelah sekian lama kita dibombardir dengan genre yang itu-itu saja, Deathgang datang dengan riff gitar downtuned mengerikan yang membawa kita terhisap semakin dalam ke dalam kubangan lumpur bersama mereka.

Musik Deathgang tidak banyak mengingatkan saya akan musisi dari dalam maupun luar negeri. Pada ..An End To Ill Omens mereka menempatkan Canathoid sebagai trek pembuka pada album ini. Sebuah trek yang mereka sesumbarkan bahwasanya “Canathoid lebih slow dari lagu pop manapun, mendayu sampai kebas”. Dan memang benar adanya, Riff Bass yang mendayu mengawali lagu ini. Sejak awal mereka memang sudah terlihat gagah dan seram. Namun saat bunyi bass mengalun, Saya langsung teringat dengan Nagas 1 milik Super Group, Shrinebuilder. Kemudian saat vocal mulai menyusul masuk, saya cukup terperangah dengan karakternya yang sangat memenuhi ekspektasi saya pribadi. Bisa diibaratkan seperti pemabuk yang mulai marah. Belum lagi efek gitar yang fuzzy menambah kesan atmospheric pada album ini. Lagu yang berdurasi lebih dari 14 menit tersebut adalah lagu yang nantinya akan menghantarmu ke dalam sebuah rawa-rawa penuh lumpur yang mencengkeram dan takkan membiarkan kakimu dengan mudah melangkah.
Kemudian dibawalah kita melangkah pada trek kedua, sebuah lagu yang dapat dikatakan sebagai soundtrack kehancuran terbaik 2020. Lagu yang akan membuat kepalamu mengangguk sepanjang musik dimainkan. Dalam album ini unsur blues memang sangatlah terasa, begitupula pada nomor Dope Tales From Salem. Mereka meracik blues terdengar lebih gelap dari sebelumnya. Suara vocal yang menyalak, Riff Gitar yang berat, Bass yang melodius, dan bunyi drum yang tidak berlebihan namun tetap heavy adalah perpaduan yang sungguh pas. Lagu ini juga merupakan sebuah single yang sebenarnya sudah mereka rilis pada November 2019. Mungkin saat hidupmu sedang putus asa, dipenuhi amarah yang terpendam, lagu ini dapat menolongmu menambah berat beban pikiran. Terkadang, sakit hati memang harus dirayakan.

Setelahnya kita disuguhkan Dionyfuzz, tidak lagi pelan, mereka langsung meng-geber sejak awal. Sebuah lagu yang terdengar heavy namun tetap menyenangkan, siapkan dulu bong-mu namun pastikan tidak berada dekat dengan kantor BNN karena lagu ini akan menemanimu sepanjang terbang menyusuri langit psikedelia atau berjalan di padang pasir di bawah substansi yang menggerus kerja syarafmu.
Akhir yang panjang, begitulah cara saya merepresentasikan Fuzzana. Satu yang terakhir dari album ..An End To Ill Omens, dengan durasi lagu lebih dari 14 menit dan menjadi satu-satunya lagu berbahasa Indonesia milik Deathgang. Menilik dari judul lagu tersebut, sudah barang tentu kita akan mengacu kepada Sang Ratu Horror tanah air, siapa lagi kalau bukan Suzana yang dikemas dengan nuansa horror psikedelia. Dengarkan saja nukilan lirik berikut, “Fuzzana! Bad trip dalam kubur!” Yang dilantunkan berulangkali. Bayangkan, bagaimana rasanya menjadi Fuzzana yang mengalami Bad Trip dalam kubur. Mengerikan bukan?
Lirik dalam lagu ini ditulis dengan gaya penulisan yang naratif. Selain itu, secara tidak langsung mereka juga menegaskan Deathgang sebagai grup Stoner Pelebur Batu Setan atas musik mereka yang berat dan gelap. Bagi saya, lagu ini merupakan lagu penutup yang epik dan dramatis. Saya juga yakin trek ini akan menjadi salah satu lagu favorit dan sing a long disetiap gigs mereka kelak.
..An End To Ill Omens sendiri dikemas dengan sangat menarik, cover album digarap dengan apik oleh seorang illustrator dengan nama akun Instagram Gigatheis. Mereka meluncurkan album ini dengan 2 format rilisan fisik yaitu kaset pita dan CD, serta tidak ketinggalan album ini juga tersedia di layanan musik streaming Bandcamp. Sebelumnya saya mendapat kabar dari sang vokalis bahwa album ini baru bisa dinikmati secara fisik di Indonesia pada bulan Oktober mendatang.

..An End To Ill Omens dari Deathgang, kuartet stoner/doom potensial asal Yogyakarta ini sangat layak dengar bagi kalian penggemar musik khususnya rock serta turunannya. Setelah ada Suri dan Matiasu dengan doom-nya masing-masing, kali ini kita berada pada era Deathgang. Di telinga saya album ini terbilang tanpa cela, lagu demi lagu di dalamnya memberi saya kepuasan tersendiri. Dengan riff yang berat, vocal yang berkarakter serta dentuman drum fuzz yang menghentak, Selamat datang pada music Deathgang! The Beast is back, They drop the holy crown, take the immortal wine and BEWARE BOYS!
Source Pic : Deathgang’s Instagram ( @nastydeathgang)









